Selasa, 15 April 2014

Rangkuman Ke Empat

Pengertian Laporan Keuangan Konsolidasi Metode Equity Dan Prosedur Akuntansi Metode Equity


Laporan Keuangan Konsolidasi Metode Equity
20% - 50% disarankan menggunakan metode ekuitas sehingga dapat mengendalikan perusahaan anak.
Pemilikan lebih dari 50% dapat menggunakan metode ekuitas juga diharuskan menyusun laporan keuangan konsolidasi.

Konsep Dasar Metode Equity pada dasarnya memandang investasi induk perusahaan terhadap anak perusahaan sebagai suatu penyertaan modal sehingga jika aktiva bersih anak perusahaan berubah karena kegiataan operasionalnya. Secara otomatis akan menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk perusahaan.

Prosedur Pencatatan Investasi Metode Equity 
jika laba maka perusahaan induk akan mendebit rekening "investasi saham pada perusahaan anak" dan mengkredit "laba yang ditahan".
Sedangkan jika rugi perusahaan induk akan mendebit "laba yang ditahan" dan mengkredit "investasi saham pada perusahaan anak"

Teknik dan Prosedur Konsolidasi

  • Mengeliminasi semua rekening timbal balik
  • menyusun kertas kerja (worksheet)

Minggu, 06 April 2014

Rangkuman Ke Tiga

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI


Laporan Keuangan Konsolidasi adalah laporan yang menyajikan posisi keuangan dan hasil operasi dari sebuah perusahaan dan anak perusahaan.

Tujuan Laporan Keuangan Konsolidasi
Untuk memberikan gambaran yang objektif sesuai aktifitas dari perusahaan tersebut.

Manfaat Laporan Keuangan Konsolidasi :
  • Memberikan gambaran yang jelas tentang total sumber daya perusahaan hasil gabungan dibawah kendali induk perusahaaan
  • memberikan informasi kepada manajemen induk perusahaan 
Metode-metode penyusunan laporan keuangan konsolidasi ada dua yaitu :
Metode Ekuitas (Equity Method) : Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam perubahan modal pada perusahaan anak harus diakui dan dicatat oleh perusahaan induk.
Metode Biaya (Cost Method) : Metode biaya yang diakui jika perusahaan anak membagikan deviden , pada metode ini keuntungan dan kerugian yang didapat perusahaan anak tidak diakui sebagai pendapatan oleh perusahaan anak.

Pendapatan deviden dicatat pada sisi deket dalam rekening "piutang deviden (kas)" dan sisi kredit "laba yang ditahan"


Selasa, 01 April 2014

RANGKUMAN PERTEMUAN KEDUA

Konsep Akuntansi Dari Penggabungan Usaha Dan akuntansi Untuk Investasi Dalam Saham

Metode yang digunakan dalam penggabungan usaha adalah :

Metode Penyatuan Kepemilikan (Pooling Of Interest Method) : 
Pooling of Interest Method mengasumsikan kepemilikan perusahaan-perusahaan yang bergabung adalah satu kesatuan secara relatif tetap tidak berubah pada entitas akuntansi yang baru.
Metode Pembelian (Purchase Method) :
 penggabungan usaha merupakan suatu transaksi dimana suatu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-perusahaan lain yang bergabung

Jika posis kontrol terhadap perusahaan anak melalui pemilikan saham-sahamnya dan perusahaan anak memiliki lebih dari satu jenis saham , maka harus dibedakan besarnya bagian hak-hak pemegang saham menurut jenisnya masing-masing.

Jika suatu perusahaan memiliki kepemilikan saham lebih dari sama dengan 50% maka perusahaan tersebut memiliki pengendali terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut.

Metode-metode penilaian investasi :
Metode Biaya : Kepemilikan saham kurang dari 20%
Metode Ekuitas : Kepemilikan saham antara 20% sampai 50%
Metode Nilai Bersih Yang Dapat Direalisasikan : Kepemilikan saham yang akan dijual dalam waktu dekat 

Senin, 24 Maret 2014

Rangkuman Pertemuan Pertama

PENGGABUNGAN BADAN USAHA DAN KONTRIBUSI RELATIF PERUSAHAAN YANG BERGABUNG

Penggabungan atau kombinasi badan usaha adalah suatu usaha untuk mengembangkan perusahaan dengan cara menyatukan perusahaan dengan satu atau lebih menjadi satu kesatuan ekonomi.

Manfaat Dan Tujuan Usaha :
Investasi yang menguntungkan
Memperluas pemasaran
Volume penjualan yang lebih tinggi
Produksi dan Manajemen yang lebih baik
Penghematan Biaya melalui operasi yang ekonomis dan efisien
Kemampuan mengumpulkan modal yang lebih besar

Bentuk Pengembangan Usaha :
  • Merger, yaitu penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan membeli perusahaan lain yang kemudian perusahaan yang dibelinya tersebut menjadi anak perusahaannya atau dibubarkan. Perusahaan yang dibelinya sudah tidak mempunyai status hukum lagi dan yang mempunyai status hukum adalah perusahaan yang membelinya.
  • Konsolidasi, merupakan bentuk lain dari merger, yaitu penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan bergabung dengan perusahaan lain membentuk satu perusahaan baru
  • Afiliasi, yaitu penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar saham atau seluruh saham perusahaan lain untuk memperoleh hak pengendalian (controlling interest). Perusahaan yang dikuasai tersebut tidak kehilangan status hukumnya dan masih beroperasi sebagaimana perusahaan lainnya.
Ada dua cara (pendekatan) di dalam menentukan banyaknya saham yang harus diserahkan kepada masing – masing perusahaan yang digabung.

o   Kontribusi Relatip dari Kekayaan Bersih
Penentuan besarnya jumlah kekayaan bersih relatip seringkali diperlukan bantuan dari akuntan dan orang yang ahli dibidang menaksir harga – harga pasar. Laporan keuangan dari masing – masing pihak harus disusun atas harga pasarnya (harga yang disetujui oleh semua pihak).
Beberapa hal yang sering memerlukan perhatian khusus dalam rangka penyusunan laporan keuangan adalah metode penilaian yang dipakai terhadap investasi (surat – surat berharga); cadangan kerugian piutang; penentuan harga pokok dan prosedur penilaian terhadap persediaan; kebijaksanaan terhadap kapitalisasi yang berhubungan dengan Aktiva Tetap.
Adanya perubahan nilai yang terjadi pada Aktiva Tetap berhubung perubahan nilai uang dan kemajuan teknologi, harus diakui agar diperoleh penilaian yang wajar.
o   Kontribusi Relatip dari Laba yang di Proyeksikan
Penentuan besarnya kontribusi relatip dari rata – rata keuntungan kepada perusahaan yang baru dibentuk, memerlukan juga bantuan dari orang yang ahli dibidang ini.Laporan Rugi – Laba dari perusahaan yang digabung juga harus disusun sesuai dengan prinsip – prinsip akuntansi yang lazim, seperti halnya pada neraca.




Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan

Informasi akuntansi keuangan menunjukkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan yg digunakan oleh para pemakai sesuai dgn kepentingan masing-masing. Pengertian laporan keuangan menurut PSAK No1 (2004) merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yg lengkap dari laporan laba rugi neraca laporan arus kas laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misal sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana) catatan dan laporan serta materi penjelasan yg merupakan bagian intergral dalam laporan keuangan (Muhammad Yusuf dan Soraya 2004: 100).
Laporan keuangan yg sebenar merupakan produk akhir dari proses atau kegiatan akuntansi dalam satu kesatuan. Proses akuntansi dimulai dari pengumpulan bukti-bukti transaksi yg terjadi sampai pada penyusunan laporan keuangan. Proses akuntansi tersebut harus dilaksanakan menurut cara tertentu yg lazim dan berterima umum serta sesuai dgn standar akuntansi keuangan.
Menurut PSAK (2004) tujuan laporan keuangan utk tujuan umum adl menyediakan informasi yg menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan yg bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi serta menunjukkan kinerja yg telah dilakukanmanajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yg dipercayakan kepadanya.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan meliputi:
  1. Aktiva
  2. Kewajiban
  3. Ekuitas
  4. Pendapatan dan beban termasuk keuntungan
  5. Arus kas
Informasi tersebut di atas beserta informasi lain yg terdapat dalam catatan laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan khusus dalam hal waktu dan kepastian diperoleh kas dan setara kas.
Jenis-jenis Perusahaan Dan Laporan keuangan
A.       Jenis-Jenis Perusahaan
Perusahaan dapat digolongkan menurut jenis operasi dan badan hukumnya sebagai berikut ini:
MENURUT OPRASINYA
1.      Perusahan Jasa
Perusahaan jasa tidak menjual produk yang nyata bisa anda pegang atau bawa pulang, tetapi produknya berbentuk pelayanan yang dapat anda nikmati, anda rasakan manfaatnya, dan anda rasakan adanya kepuasan terhadap pelayanan tersbut
Contoh : Garuda indonesia, Telkomsel, Bank BCA
2.      Pabrikan
Perusahaan Pabrikan adalah perusahaan pabrikan yang mengubah input dasar menjadi produk bagi pelanggan.
Contoh : Indofood, Astra Indonesia, Indofarma, Dirgantara Indonesia dll
3.      Perusahaan Dagang
Perusahaan dagang tidak mengadakan perakitan atau perubahan terhadap produk, tetapi mereka membeli produk jadi untuk dijual kembali tanpa mengubahnya.
Contoh : Hypermart, Carrefour, Supermarket dll.
A.2  Menurut Badan Hukumnya
1.      Perusahaan Perseorangan, adalah perusahaan yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap seluruh kekayaaan (aktiva) dan seluruh kewajiban perusahaan.
2.      Persekutuan firma (Fa), adalah perusahaan yang modalnya dimiliki oleh dua orang atau lebih yang bersama-sama menjalankan perusahaan dibawah satu nama perusahaan. Para sekutu dalam sebuah firma bertanggung jawab sepenuhnya terhadap utang piutang perusahaan. Persekutuan firma didirikan dengan sebuah surat pernjanjian otentik yang dibuat dihadapan notaris.
3.      Persekutuan Komanditer (CV atau Commanditaire Vennootschap), adalah suatu perusahaan yang didirikan oleh dua orang atau lebih yang sekutu-sekutunya terdiri atas sekutu diam/pasif(sekutu komanditer) dan sekutu usaha/aktif (sekutu Komplementer). Sekutu diam adalah sekutu yang tidak turut serta dalam menjalankan perusahaan dan tanggung jawabnya terbatas pada jumlah modal yang diikut sertakanya. Sekutu usaha (sekutu aktif) adalah sekutu yang turut serta dalam menjalankan perusahaan dan bertanggung jawab sepenuhnya dengan kekayaan mereka masing-masing atas utang-piutang perusahaan.
4.      Perseroan Terbatas (PT), adalah suatu persekutuan untuk menjalankan perusahaan yang modalnya terbagi atas saham-saham.
5.      Koperasi, badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatanya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
 B.     Pengertian dan guna laporan keuangan
Didalam prinsip-prinsip akuntansi indonesia dieterangkan bahwa laporan keuangan ialah neraca dan perhitungan rugi laba serta segala keterangan-keterangan yang dimuat dalam lampiran-lampirannya, antara lain laporan sunber  dan penggunaan dana-dana.
Pada umumnya yang menjadi unsur utama dari laporan keuangan terdiri atas neraca, laporan laba rugi yang dilengkapi dengan laporan perubahan modal dan lain-lainya.
I.       Neraca
Neraca adalah laporan mengenai harta, hutang dan modal suatu perusahaan pada saat tertentu yang disusun secara sistematis.
II.    Laporan Laba-Rugi
Yaitu laporan yang menyajikan besarnya pendapatan dan beban selama periode akuntansi tertentu. Dengan demikian akan terlihat besarnya laba atau rugi perusahaan pada periode akuntansi bersangkutan dengan membandingkan jumlah pendapatan dengan beban.
III.  Laporan Perubahan Modal
Dalam laporan ini akan terlihat pertambahan atau pengurangan modal dari awal periode ke akhir periode akuntansi. Laporan ini menyajikan modal awal, investasi tambahan, saldo laba/rugi, pengambilan prive dan modal akhir.
IV. Laporan Aliran Kas
Laporan aliran kas adalah laporan keuangan yang menyediakan informasi mengenai arus kas masuk dan kas keluar dari aktifitas operasi, investasi, dan pendapatan dalam suatu periode akuntansi.
Laopran aliran kas bertujuan :
1.      Penerimaan dan pengeluaran kas suatu entitas selama satu periode akuntansi tertentu, dan
2.      Aktivitas operasi, investasi, dan pendanaannya selama periode akuntansi tersebut
 C.    LAPORAN NERACA
a.      Pengelompokan Pos-pos Neraca (Rill Account)
1.   Aktiva (Asset)
Aktiva adalah semua milik (kekayaan) perusahaan baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud yang dapat dinilai dengan uang. Pada umumnya aktiva dapat dibagi menjadi lima golongan yaitu : Aktiva Lancar (Current Assets), Investasi Jangka Panjang(Long Term Investment), Aktiva Tetap (Fixed Assed), Aktiva Tidak berwujud (Intangible Assets), Aktiva Lain-lain (Other Asset).
1.1  Aktiva Lancar (Current Asset)
Adalah uang tunai dan aktiva lain yang diharapkan dapat dicairkan menjadi uang tunai dalam jangka waktu satu tahun atau kurang melalui operasi normal perusahaan. Yang termasuk dalam aktiva lancar adalah sebagai berikut :
§  Kas (Cash) adalah semua uang tunai dan surat berharga yang berfungsi sebagai uang tunai yangdisimpan dibank dan setiap saat dapat diambil.
§  Surat berharga/efek (Marketable Securities) adalah surat berharga berupa saham dan obligasi yang dapat diperjual belikan melalui bursa.
§  Piutang Usaha (Account Receivable) adalah tagihan kepada pihak lain tanpa perjanjian tertulis yang pelunasanya dalam jangka pendek (kurang dari satu tahun).
§  Wesel Tagih (Note receivable) adalah tagihan kepada pihak lain yang disertai perjanjian tertulis yang pelunasannya dalam jangka pendek.
§  Perlengkapan (Office Supplies) adalah barang yang dipergunakan untuk kegiatan perusahaan yang habis terpakai dalam jangka kurang dari satu tahun. Contohnya alat tulis, kertas perangko.
§  Beban dibayar di muka (Prepayment) adalah beban yang telah dikeluarkan tetapi belum diterima manfaatnya atau belum menjadi kewajiban. Contohnya, sewa dibayar dimuka dan bunga dibayar di muka.
§  Pendapatan yang akan diterima adalah pendapatan atas pekerjaan yang telah diselesaikan, tetepi belum diterima pembayarannya.
§  Persediaan barabg dagang (Inventory) adalah barang dagangan yang diperjual-belikan.
1.2  Investasi Jangka Panjang (Longterm Investment)
adalah investasi yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan menjadi uang kas dalam operasi normal perusahaan atau dalam waktu satu tahun. Yang termasuk Investasi jangka panjang antara lain : Penanaman Modal dalam Saham, Penanaman Modal dalam Obligasi, Penanaman modal dalam bentuk dana.
1.3  Aktiva Tetap (Fixed Assets) adalahAktiva berwujud yang dipergunakan dalam operasi perusahaan yang mempunyai umur ekonomi lebih dari satu tahun atau yang sifatnya relatif tetap. Yang termasuk golongan aktiva tetap, anatara lain kendaraan, peralatan kantor, mesin-mesin, gedung dan tanah yang digunakan untu lokasi usaha. Aktiva tetap dalam penggunaanya secara bertahap akan menyusut atau berkurang nilai kegunaanya, kecuali tanah.
1.4  Aktiva tidak berwujud (Intangible assets) adalah aktiva yang berupa hak-hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam memperoleh pendapatan. Yang termasuk aktiva tidak berwujud adalah :
§  Hak Paten adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah melalui Direktorat Paten, departemen kehakiman kepada seseoarang atau badan untuk menggunakan penemuan baru. Contohnya, Penemuan Produk dan Formula.
§  Hak Cipta adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada sesorang atau badan untuk memeperbanyak dan menjual hasil karya seni atau intelektual. Contohnya, menulis buku dan mencipta lagu.
§  Hak Merek adalah hak tunggal yang diberikan pemerintah kepada seseorang atau badan untuk menggunakan cap, nama, logo, lambang atau merk usaha.
§  Frinchise (Waralaba) adalah suatu pengaturan perjanjian yang menyatakan seseorang pemilik bisnis (Franchisor) memperbolehkan pemilik bisnis lain (Franchisee) memakai merk dagangannya atau hak ciptanya dalam kondisi tertentu. Contohnya, Mc-Donald’s, KFC, Es-Teller 77 dan Texas Chicken.
§  Goodwill adalah suatu aktiva tak berwujud yang terkait pada suatu perusahaan tertentu sebagai hasil faktor-faktor yang menguntungkan. Seperti lokasi, keunggulan produk, nama baik, dan keahlian manajerial.
1.5  Aktiva Lain-lain (Other Assets) adalah aktiva yang tidak dapat dikelompokkan kedalam kriteria di atas, antara lain mesin yang tidak diapakai atau tanah yang tidak menjadi tempat usaha.
2.      Kewajiban (Liabilities)
Kewajiban adalah keharusan membayar kepada pihak lain dalam jangka waktu tertentu. Kewajiban dibagi menjadi dua golongan yaitu Kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang.
2.1  Kewajiban Lancar (Current Liabilities) adalah kewajiban yang harus dibayar kepada pihak lain dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Yang termasuk kewajiban lancar adalah sebagai berikut :
§  Utang Usaha (Account Payable) adalah hutang jangka pendek yang tidak disertai perjanjian tertulis. Contohnya, transaksi pembelian dengan kredit.
§  Wesel bayar (Note Payable) adalah keajiban jangka pendek yang disertai perjanjian tertulis. Contohnya, mengaksep wesel (mengakui wesel) yang ditarik oleh pihak lain dan menyerahkan promes (surat perjanjian untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang pada waktu tertentu)
§  Beban yang masih harus dibayar adalah suatu kewajiban yang seharusnya sudah dibayar atau telah menjadi beban, tetapi belum dibayar. Contohnya, upah yang masih harus dibayar dan bunga yang masih harus dibayar.
§  Pendapatan diterima di muka adalah pendapatan yag belum menjadi hak perusahaan, tetapi sudah diterima pembayarannya. Contohnya, bunga diterima di muka dan sewa . diterima di muka.
2.2  Kewajiban Jangka Panjang (Long-term Liabilities) adalah keharusan membayar kepada pihak lain dalam waktu relatif lama atau lebih dari satu tahun. Bila kewajiban tersebut telah jatuh tempo dan harus dibayar dalam periode satu tahun, maka menjadi kewajiban lancar. Namun, jika tidak dibayar pada waktu jatuh temponya atau diperpanjang jangka pelunasannya, maka kewajiban tersebut akan tetap digolongkan sebagai kewajiban jangka panjang. Yang termasuk dalam kewajiban jangka panjang meliputi, Pinjaman Obligasi dan Utang Hipotek.
§  Obligasi adalah surat bukti utang perusahaan kepada pemegang yang pelunasannya lebih dari satu tahun dengan imbalan jasa berupa bunga.
§  Utang hipotek adalah kewajiban jangka panjang yang disertai dengan jaminan aktiva tetap.
 3.      Ekuitas / Modal ( Equity)
Hak milik bersih pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan disebut modal pemilik. kekayaan perusahaan dikurangi hutang-hutang adalah modal pemilik dalam perusahaan tersebut
b. Bentuk Neraca
Bentuk laporan nerca ada dua, yaitu :
1. Bentuk Horizontal (Bentuk Scontro)
Dalam bentuk ini aktiva di sisi kiri dan, kewajiban dan modal disisi kanan.
2. Bentuk Vertikal (Bentuk Staffel)
Dalam bentuk ini aktiva dicatat paling atas sedang kewajiban dan modal dicatat paling bawah.
D.    Laporan Laba – Rugi
a. Pengelompokan Pos-pos Laporan Laba Rugi (Nominal  AccountAccount)
1. Pendapatan
Pendapatan adalah penambahan kotor terhadap ekuitas yang berasl dari kegiatan usaha atau hasil yang diperoleh dari kegiatan perusahaa. Pendapatan diperoleh dari hasil penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha pokoknya. Pendapatan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu, Pendapatan Operasional dan Pendapatan Non Operasional.
§  Pendapatan Operasional adalah pendapatan yang diperoleh dari usaha pokok. Contohnya, Pendapatan Servis pada perusahaan jasa reparasi, pendapatan jasa pada perusahaan jasa Salom atau Taxi, dan pendapatan sewa film pada perusahaan persewaan film.
§  Pendapatan Non Operasional adalah pendapatan yang diperoleh diluar usaha pokok. Misalnya, pendapatan bunga, pendapatan komisi, dan laba dari penjualan aktiva.
2. Beban
Beban adalah pengorbanan yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan. Beban dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Beban usaha (Operasional) dan Beban diluar usaha (Non Operasional).
§  Beban usaha (Operating expenses) adalah beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil dari usaha pokok perusahaan. Misalnya, beban gaji, beban listrik, beban asuransi beban iklan, beban sewa dan sebagainya.
§  Beban diluar usaha (Non Operating expenses) adalah beban yang dikeluarkan, tetapi tidak ada hubungannya dengan usaha pokok perusahaan. Misalnya beban bunga dan rugi dari penjualan aktiva.
b. Periode Laporan Laba – Rugi
Laporan Laba-Rugi disusun sesuai dengan kebutuhan. Periode laporan laba-rugi dapat 1 bulan, 3 bulan 6 bulan (1 semester), tetapi umumnya laporan laba-rugi disusun untuk satu tahun.
c. Bentuk laporan Laba-Rugi
Bentuk Laporan Laba-Rugi ada dua, yaitu :
1. Bentuk Terklasifikasi (Multiple Step)
Pendapatan dibedakan menjadi pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, demikian juga beban dibedakan menjadi beban usaha usaha dan beban di luar usaha. Pendapatan dan beban usaha disajikan pertama, pendapatan dan beban di luar usaha disajikan kemudian.
2. Bentuk tidak terklasifikasi (Single Step)
Semua pendapatan dikelompokkan tersendiri di bagian atas dan dijumlahkan, kemudian semua beban dikelompokkan tersendiri di bagian bawah dan dijumlahkan. Jumlah pendapatan dikurangi jumlah beban, selisihnya merupakan laba bersih atau rugi bersih.
Contoh laporan Laba-rugi :
- Bentuk Single Step

- Bentuk Multi Step

E.     Laporan Perubahan Modal
Dari laporan perubahan modal dapat dilihat apakah modal perusahaan dari satu tahun ketahun berikutnya :
-    Ada kenaikkan modal sebab investasi tambahan atau karena laba.
-  Ada penurunan modal sebab pengambilan untuk prive atau karena rugi.

F.     LAPORAN ALIRAN KAS

Sumber : http://akbarsembilan.blogspot.com/

Review Jurnal


ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

 PENDAHULUAN
Perusahaan merupakan suatu badan yang didirikan oleh perorangan atau lembaga dengan tujuan utama untuk memaksimalkan keuntungan.
Ketidakmampuan mengantisipasi perkembangan global akan mengakibatkan pengecilan dalam volume usaha yang pada akhirnya mengakibatkan kebangkrutan perusahaan. Risiko kebangkrutan bagi perusahaan sebenarnya dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara melakukan analisis terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan Hasil analisis laporan keuangan juga akan memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan.. Dalam hal ini persaingan antara produsen semen di Indonesia semakin meningkat setelah didera krisis selama beberapa tahun lalu, terutama perusahaan-perusahaan semen yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sehingga dari uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian secara cross section mengenai “ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Laporan Keuangan
Menurut Kamaludin dan Indriani. R (2011, h.34) : “Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses pencatatan yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.”
Laporan keuangan adalah laporan yang diterbitkan oleh suatu perusahaan berupa neraca, laporan laba rugi dan laporan perubahan modal yang merupakan catatan transaksi perusahaan dan perkembangan perusahaan selama periode tertentu.
2.2 Komponen Laporan Keuangan
Menurut Brigham dan Houston (2009, h.45) diterjemahkan oleh Ali Akbar Julianto laporan keuangan terdiri dari empat komponen, yaitu:
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan Laba Ditahan
4. Laporan Arus Kas
2.3 Definisi Analisis Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2010, h.66) analisis laporan keuangan adalah”Kegiatan yang dilakukan dengan cara menentukan dan mengukur antara pos-pos yang ada pada laporan keuangan dalam satu periode”.
Analisis laporan keuangan diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan suatu perusahaan sehingga nantinya dapat membantu manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih baik lagi kedepannya.
2.4 Definisi Analisis Rasio Keuangan
Menurut Kasmir (2010, h.104) “Analisis rasio keuangan merupakan kegiatan memandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.”
2.5. Kelebihan dan Kelemahan Rasio Keuangan

Menurut Harahap (2006, h.298), keunggulan rasio keuangan adalah sebagai berikut:
1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan;
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit;
Sedangkan kelemahan analisis laporan keuangan itu sendiri menurut Weston dalam buku Kasmir (2010, h.116) adalah sebagai berikut:
1. Data keuangan disusun dari data akuntansi.
2. Prosedur pelaporan yang berbeda, mengakibatkan laba yang dilaporkan berbeda pula, (dapat naik atau turun), tergantung prosedur pelaporan keuangan tersebut.
2.6 Jenis-jenis Analisis Rasio Keuangan
Menurut Kasmir (2010, h.123), jenis-jenis rasio keuangan yang biasa digunakan dalam analisis laporan keuangan antara lain :
1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio analisa tentang kemampun perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban hutang jangka pendeknya.
Adapun yang tergabung dalam rasio ini adalah :
1) Rasio Lancar (Current Ratio)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya
Current ratio = (Aktiva Lancar / hutang lancar) X 100%
2) Rasio Cepat (Quick Ratio)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya
Quick Ratio = ((Aktiva Lancar – Persediaan) / Hutang lancar)) x 100%
3) Rasio Kas (Cash Ratio)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek..
Cash Ratio = (Aktiva Lancar / Pinjaman Jangka Pendek) x 100%
4) Rasio Perputaran Kas (Cash Turn Over Ratio)
Rasio perputaran kas berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan.
5) Inventory to Net Working Capital
Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur antara jumlah sediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan.
2. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
Rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utangnya, Adapun rasio-rasio yang tergabung dalam rasio Solvabilitas, yaitu:
1) Rasio Hutang terhadap Total Aktiva (Debt to Asset Ratio)
Merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui
2) Rasio Hutang terhadap Ekuitas(Debt to Equity Ratio)
Merupakan perbandingan antara hutang – hutang dan ekuitas.
3) Long Term Debt to Equity Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang.
4) Rasio Kemampuan Membayar Bunga (Times Interes Earned)
Rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga
3. Rasio Aktivitas (Activity Ratio)
Rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya atau aktivanya. Yang tergolong dalam rasio ini adalah:
1) Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)
Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode
2) Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over)
Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan berputar dalam satu periode.
3) Perputaran Modal Kerja ( Working Capital Turn Over)
Rasio yang digunakan untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan.
4) Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turn Over)
Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode.
5) Perputaran Aktiva (Total Assets Turn Over)
Total asset turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan.
4. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Jenis-jenis rasio ini adalah:
1) Net Profit Margin
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba bersih setelah pajak.
2) Hasil Pengembalian Investasi (Return on Investment)
Rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah yang digunakan dalam perusahaan.
3) Return on Equity
Rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih setelah pajak dengan equity perusahaan.

 METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif
3.2 Objek dan Subjek Penelitian
Objek dari penelitian ini adalah perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Sedangkan subjek pada penelitian ini adalah analisis laporan keuangan pada perusahaan semen.
3.3 Teknik Pengambilan Sample
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.
3.4 Jenis Data
Penelitian ini menggunakan jenis data sekunder
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah studi kepustakaan dan dokumentasi.
3.6 Definisi Operasional
Definisi operasioanal ditunjukkan pada variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur perkembangan kinerja keuangan.
3.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah dengan menggunakan rasio keuangan, yaitu Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, dan Rasio Profitabilitas

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Rasio Likuiditas PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
1. Rasio Lancar
Tahun 2008 kemampuan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk untuk membayar hutang jangka pendeknnya kurang baik karena di bawah rata-rata industri. Sedangkan pada tahun 2007 dan 2009-2011 perusahaan dianggap baik dalam membayar hutang lancar yang segera jatuh tempo karena di atas rata-rata industri.
2. Rasio Cepat
Tahun 2008 kemampuan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk untuk membayar hutang lancar dengan aset lancar tanpa persediaan kurang baik karena di bawah rata-rata industri. Sedangkan pada tahun 2007 dan 2009-2011 perusahaan dianggap baik karena di atas rata-rata industri.
3. Rasio Kas
Pada tahun 2007-2008 keadaan keuangaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk berada pada posisi kurang baik dan pada tahun 2009-2011 berada pada posisi cukup baik, karena berada di atas rata-rata industri sebesar 50%, namun perlu dilihat juga apakah ada dana yang menganggur atau yang belum digunakan secara optimal karena rasio kas pada tahun 2009-2011 terlalu tinggi.
4. Rasio Perputaran Kas
Pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dianggap kurang baik dalam mencukupi modal kerja untuk membayar tagihan dan biaya penjualan karena berada di bawah rata-rata industri.
5. Inventory to Net Working Capital
Pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan rasio berada di atas rata-rata industri yaitu sebesar 12 %. Untuk lebih memudahkan dalam memahami rasio-rasio likuiditas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
4.2 Analisis Rasio Solvabilitas PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
1. Rasio Hutang terhadap Total Aktiva
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk kebutuhan dana dibelanjai dengan hutang sudah cukup baik karena rata-rata industri adalah sebesar 35 % dan setiap tahunnya mengalami penurunan.
2. Rasio Hutang terhadap Ekuitas
Pada tahun 2009 keadaan perusahaan kurang baik dibandingkan tahun 2007-2008 dan tahun 2010-2011.
3. Long Term Debt to Equity Ratio
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dari tahun 2007-2011 dianggap baik dalam menggunakan modal sendiri untuk menjamin hutang jangka panjang karena masih di bawah rata-rata industri.
4. Rasio Kemampuan Membayar Bunga
Pada tahun 2007, kemampuan perusahaan untuk menutup biaya bunga dengan laba sebelum bunga dan pajak kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri yaitu sebanyak 10 kali, sedangkan pada tahun 2008-2011 dianggap cukup baik
4.3 Analisis Rasio Aktivitas PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
1. Perputaran Piutang
Rasio rata-rata adalah 15 kali yang artinya semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa penagihan piutang yang dilakukan manajemen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dianggap berhasil. Pada tahun 2010 penagihan piutang perusahaan dianggap baik banding tahun sebelumnya dan pada tahun 2011.
2. Perputaran Persediaan
.Pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2007-2011 dana yang ditanam dalam persediaan tidak baik karena masih di bawah rata-rata industry
3. Perputaran Modal Kerja
Pada tahun 2007-2011 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dianggap kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri.
4. Perputaran Aktiva Tetap
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2007-2011 terus mengalami peningkatan tapi masih belum memenuhi rata-rata industri dan dianggap kurang mampu memaksimalkan kapasitas aktiva tetap yang dimiliki.
5. Perputaran Aktiva
Pada tahun 2007-2011 perusahaan belum mampu memaksimalkan aktiva yang dimiliki karena masih di bawah rata-rata industri.
4.4 Analisis Rasio Profitabilitas PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
1. Net Profit Margin
Rasio rata-rata adalah 20 %, pada PT Indocement Tungal Prakasa laba yang dihasilkan pada tahun 2009-2011 lebih baik dibandingkan pada tahun 2007-2008.
2. Hasil Pengembalian Investasi
Pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tahun 2007-2011 masih kurang baik dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak dengan jumlah aset perusahaan karena masih rasio masih berada di bawah rata-rata industri dan disebabkan karena margin laba akibat rendahnya perputaran aktiva.
3. Hasil Pengembalian Ekuitas
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2009 dalam penggunaan modal sendiri berada di atas rata-rata dan dianggap baik sedangkan pada tahun 2007-2008 dan tahun 2010-2011 dianggap kurang baik karena berada di bawah rata-rata.
4.5 Analisis Rasio Likuiditas PT. Holcim Tbk
1. Rasio Lancar
Tahun 2007-2011 kemampuan PT Holcim Tbk untuk membayar hutang jangka pendeknnya kurang baik karena masih berada di bawah rata-rata industri.
2. Rasio Cepat
Tahun 2007-2011 kemampuan PT Holcim Tbk untuk membayar hutang lancar dengan aset lancar tanpa persediaan kurang baik karena di bawah rata-rata industri.
3. Rasio Kas
Pada tahun 2009 keadaan keuangaan PT Holcim Tbk berada pada posisi kurang baik dan pada tahun 2007-2008 dan tahun 2010-2011 berada pada posisi cukup baik, karena berada di atas rata-rata industri yaitu sebesar 50 %.
4. Rasio Perputaran Kas
Pada PT Holcim, tahun 2007 dan 2009 dianggap baik dalam mencukupi modal kerja untuk membayar tagihan dan biaya penjualan karena berada di atas rata-rata industri, sedangkan pada tahun 2008 dan 2010 masih kurang baik. Namun, untuk tahun 2011 tidak terlalu buruk karena hampir mendekati rata-rata.
5. Inventory to Net Working Capital
PT Holcim Tbk dari tahun ke tahun dianggap baik karena rasio berada di atas rata-rata industri yaitu sebesar 12 %.
4.6 Analisis Rasio Solvabilitas PT. Holcim Tbk
1. Rasio Hutang terhadap Total Aktiva
Pada PT Holcim Tbk tahun 2007-2010 dianggap kurang baik karena perusahaan dibiayai dengan hutang melebihi rata-rata. Sedangkan, pada tahun 2010-2011 dinilai cukup baik walaupun hampir mendekati rata-rata.
2. Rasio Hutang terhadap Ekuitas
Pada tahun 2007-2009 keadaan perusahaan lebih baik dianggap tidak baik karena berada di atas rata-rata industri dan berarti perusahaan dibiayai oleh hutang lebih banyak. Sedangkan, pada tahun 2010-2011 dianggap baik karena berada di bawah rata-rata industri.
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Pada PT Holcim Tbk, dari tahun 2007-2011 dianggap baik dalam menggunakan modal sendiri untuk menjamin hutang jangka panjang karena masih di bawah rata-rata industri.
4. Rasio Kemampuan Membayar Bunga
Pada tahun 2007-2011 kemampuan perusahaan untuk menutup biaya bunga dengan laba sebelum bunga dan pajak masih kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri yaitu sebanyak 10 kali.
4.7 Analisis Rasio Aktivitas PT. Holcim Tbk
1. Perputaran Piutang
Rasio rata-rata adalah 15 kali yang artinya semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah dan kondisi ini bagi PT Holcim Tbk semakin baik. Pada tahun 2007-2010 kurang baik dibandingkan tahun 2011.
2. Perputaran Persediaan
Pada PT Holcim Tbk tahun 2007-2011 dana yang ditanam dalam persediaan tidak baik karena masih di bawah rata-rata industri.
3. Perputaran Modal Kerja
Pada tahun 2007-2011 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dianggap baik karena berada di atas rata-rata industri.
4. Fixed Assets Turn Over
PT Holcim Tbk pada tahun 2007-2011 masih belum baik karena masih berada di bawah rata-rata industri.
5. Perputaran Aktiva
Pada tahun 2007-2011 dana yang tertanam dalam total aktiva rata-rata dalam setahun kurang baik karena masih di bawah rata-rata industri.
4.8 Analisis Rasio Profitabilitas PT. Holcim Tbk
1. Net Profit Margin
PT Holcim Tbk, laba yang dihasilkan pada tahun 2007-2011 belum baik karena masih di bawah rata-rata industry
2. Hasil Pengembalian Investasi
Pada PT Holcim Tbk tahun 2007-2011 masih kurang baik dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak dengan jumlah aset perusahaan karena masih rasio masih berada di bawah rata-rata industri.
3. Hasil Pengembalian Ekuitas
PT Holcim Tbk dari tahun 2007-2011 masih kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri.
4.9 Analisis Rasio Likuiditas PT. Semen Gresik (Persero) Tbk
1. Rasio Lancar
Dari tahun 2007-2011 kemampuan PT Semen Gresik (Persero) Tbk untuk membayar hutang jangka pendeknnya baik karena berada di atas rata-rata industri.
2. Rasio Cepat
Dari tahun 2007-2011 kemampuan PT Semen Gresik (Persero) Tbk untuk membayar hutang lancar dengan aset lancar tanpa persediaan dianggap baik karena berada di atas rata-rata industri.
3. Rasio Kas
Pada tahun 2007-2011 keadaan keuangaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk berada pada posisi baik karena berada di atas rata-rata industri yaitu sebesar 50%.
4. Rasio Perputaran Kas
Pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, dianggap baik dalam mencukupi modal kerja untuk membayar tagihan dan biaya penjualan karena berada di atas rata-rata industri.
5. Inventory to Net Working Capital
Pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan rasio berada di atas rata-rata industri yaitu sebesar 12 %.
4.10 Analisis Rasio Solvabilitas PT. Semen Gresik (Persero) Tbk
1. Rasio Hutang terhadap Total Aktiva
PT Semen Gresik (Persero) Tbk kebutuhan dana dibelanjai dengan hutang masih kurang karena rata-rata industri adalah sebesar 35 %.
2. Rasio Hutang terhadap Ekuitas
Dari tahun 2007-2011 keadaan perusahaan masih belum baik karena rasio masih berada di bawah rata-rata.
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk, dari tahun 2007-2011 dianggap baik dalam menggunakan modal sendiri untuk menjamin hutang jangka panjang karena masih di bawah rata-rata industri.
4. Rasio Kemampuan Membayar Bunga
Dari tahun 2007-2011, kemampuan perusahaan untuk menutup biaya bunga dengan laba sebelum bunga dan pajak dianggap baik karena rasio berada di atas rata-rata industri yaitu sebanyak 10 kali.
4.11 Analisis Rasio Aktivitas PT. Semen Gresik (Persero) Tbk
1. Perputaran Piutang
Rasio rata-rata adalah 15 kali yang artinya semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah dan kondisi ini bagi PT Semen Gresik (Persero) Tbk semakin baik. Pada tahun 2007-2010 kurang baik sedangkan di tahun 2011 cukup baik.
2 .Perputaran Persediaan
Pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk tahun 2007-2011 dana yang ditanam dalam persediaan tidak baik karena masih di bawah rata-rata industri.
3. Perputaran Modal Kerja
Pada tahun 2007-2010PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dianggap kurang baik karena berada di bawah rata-rata industri, sedangkan tahun 2011 dianggap cukup baik.
4. Fixed Assets Turn Over
.PT Semen Gresik (Persero) Tbk pada tahun 2007-2011 masih belum memenuhi rata-rata industri dan dianggap kurang baik.
5. Perputaran Aktiva
Pada tahun 2007-2011 dana yang tertanam dalam total aktiva rata-rata dalam setahun kurang baik karena masih di bawah rata-rata industri.
4.12 Analisis Rasio Profitabilitas PT. Semen Gresik (Persero) Tbk
1. Net Profit Margin
PT Semen Gresik (Persero) Tbk, laba yang dihasilkan pada tahun 2008-2011 baik karena berada di atas rata-rata industri, sedangkan tahun 2007 cukup baik karena sudah hampir mencapai rata-rata.
2. Hasil Pengembalian Investasi
Pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk tahun 2007-2011 masih kurang baik dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak dengan jumlah aset perusahaan karena masih rasio masih berada di bawah rata-rata industri.
3. Hasil Pengembalian Ekuitas
Rasio rata-rata adalah sebesar 40 %, artinya PT Semen Gresik (Persero) Tbk dari tahun 2007-2011 dalam penggunaan modal sendiri masih berada di bawah rata-rata industri dan kurang baik.

 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Rasio Likuiditas pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sudah dapat dikatakan Rasio likuiditas pada PT Holcim Tbk masih belum bisa dikatakan baik. Rasio likuiditas pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk dapat dikatakan PT Indocement Tunggal Prakarsa sudah dapat dikatakan PT Holcim Tbk kurang baik, Rasio aktivitas pada PT Indocement Tunggal Prakarsa belum berhasil dalam melakukan penagihan terhadap piutang. Rasio aktivitas pada PT Holcim Tbk belum mampu menahan persediaan yang dimiliki dalam jumlah yang sedikit. Rasio aktivitas pada PT Semen Gresik (Persero) Tbk menunjukkan bahwa perputaran modal kerja perusahaan relatif rendah. Rasio profitabilitas pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki tingkat efektifitas tidak terlalu rendah Rasio profitabilitas pada PT Holcim Tbk masih dikategorikan jauh dari baik.
5.2 Saran
Untuk PT Indocement Tunggal Prakarsa terus mempertahankan kinerja yang telah ada dan ditingkatkan lagi terutama dalam memanfaatkan aktiva lancarnya.Untuk PT Holcim Tbk dilihat dari rasio likuiditas harus lebih pandai dalam mengelola kas perusahaan agar nantinya dana/modal perusahaan dapat digunakan untuk membayar hutang perusahaan. Untuk PT Semen Gresik (Persero) Tbk dilihat dari rasio likuiditas hendaknya lebih meningkatkan lagi kinerja yang telah ada dan lebih bisa memanfaatkan kas yang ada agar dana dapat digunakan lebih optimal, sehingga nantinya diharapkan dapat lebih meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hanafi dan Halim 2009, Analisis Laporan Keuangan., Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, Yogyakarta
2. Harahap 2006, Keunggulan Rasio Keuangan, Diakses 19/09/1012, http://www.scribd.com/doc/59417382/definisi-rasio-keuangan
3. Harahap 2008, Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, Diakses 19/09/2012, http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/537/jbptunikompp-gdl-anggitarac-26828-5-unikom_a-i.